Newsticker : Home | Guestbook | Arsip
Berita Rubrik Sulteng
Rabu, 2 Mei 2012

Peserta Ambil Data Lapangan dengan Alat GPS

** Bimtek SIG Sejarah Berakhir

PALU - Pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Informasi Geografis (SIG) Sejarah yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulteng melalui Bidang Sejarah Purbakala (Sepur) selama dua hari, telah berakhir Selasa malam (1/5).
Selama kegiatan berlangsung, para peserta Bimtek SIG Sejarah tersebut, tidak hanya diberikan pemahaman materi dalam ruangan, tapi juga langsung melakukan pengambilan data dari luar ruangan atau data lapangan. Pengambilan data lapangan itu dilakukan Selasa pagi (1/5), yang dipusatkan di Kelurahan Lere Kecamatan Palu Barat, dengan dipandu oleh dua instruktur dari Direktorat Geografis Sejarah Dirjen Sepur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Albert Sianturi dan Fider Tendiardi.
Dua instukrur pusat itu juga turut didampingi oleh sejumlah tenaga teknis dari Disbudpar Sulteng dan Mahasiswa STMIK Bina Mulia. Total peserta pada kegiatan itu sebanyak 30 orang yang terdiri dari staf Disbudpar kabupaten/kota se Sulteng 22 orang, staf Disbudpar Provinsi Sulteng 4 orang, guru sejarah 2 orang, dan pengurus pusat penelitian sejarah Untad 2 orang.
Dijadikannya Kelurahan Lere sebagai lokasi pengambilan data lapangan, karena di kelurahan yang dikenal dengan sebutan Kampung Lere itu, terdapat dua situs cagar budaya yang merupakan peninggalan sejarah di Tanah Kaili yakni Situs Souraja dan Situs Makam Datokarama. Dua situs cagar budaya ini menjadi sasaran identifikasi lapangan para peserta Bimtek.
Situs Souraja adalah tempat wisata sejarah di Tanah Kaili yang dalam bahasa kaili berarti rumah besar atau pondok raja yang didirikan sekitar 119 tahun silam, atau sekitar tahun 1892 oleh Raja Palu Jodjokodi. Ukuran bangunannya 32x11,5 meter. Souraja juga menjadi tempat tinggal Raja Palu beserta keluarganya, sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Souraja memiliki 28 buah tiang penyangga rumah induk dan gandaria serta 8 buah tiang bagian dapur.
Sementara Situs Makam Datokarama adalah sebuah situs budaya berupa pekuburan, tempat dimakamkannya seorang tokoh penyebar Agama Islam pertama di Sulawesi Tengah pada abad 17 yang dikenal dengan nama Datokarama, ulama asal Sumatera Barat. Nama asli Datokarama adalah Abdullah Raqie. Di kompleks itu, selain Makam Datokarama, juga terdapat makam isterinya dan keluarga serta pengikutnya yang terdiri dari 9 makam laki-laki dan 11 makam wanita serta 2 makam lainnya.
Para peserta Bimtek SIG Sejarah itu, saat pengambilan data lapangan dibagi menjadi empat kelompok yang disebar di empat penjuru mata angin di Kelurahan tersebut. Selain langsung melakukan identifikasi di dua situs bersejarah itu, peserta juga melakukan identifikasi di dua lokasi lain yakni Kantor Kelurahan Lere dan salah satu sekolah di kelurahan tersebut. Masing-masing kelompok dibekali alat Global Positioning System (GPS) atau dalam bahasa Indonesia disebut Sistem Pemosisi Global. “Alat GPS ini digunakan oleh peserta untuk mengambil data lapangan,” ujar staf tenaga teknis Bidang Sepur Disbudpar Sulteng, Syafrullah Arisyanto yang kala itu mendampingi instrukrur pusat dan peserta melakukan pengambilan data lapangan.
Saat di lapangan, peserta dengan menggunakan alat GPS diarahkan untuk menentukan posisi dua situs cagar budaya itu, dengan bantuan sinkronisasi sinyal satelit. “Terdapat 24 satelit yang digunakan untuk mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi jika menggunakan GPS tersebut. Sinyal itu kemudian diterima oleh alat GPS untuk menentukan posisi situs, kecepatan, arah, dan waktu menuju situs,” jelas Syafrullah. Kata dia, keunggulan menggunakan GPS cukup banyak, diantaranya sistemnya murah, keakurasian datanya baik, sinyalnya gratis, dan koordinat yang dihasilkan dapat digunakan ke sistem yang lain atau sebaliknya.
Setelah hampir dua jam melakukan pengambilan data lapangan, peserta kemudian kembali ke lokasi kegiatan di Hotel Palu Golden, untuk menginput hasil pengambilan data lapangan dengan membuat peta tematik dan menganalisanya dengan menggunakan software Arcview. “Diharapkan  para peserta saat kembali ke tempat tugas masing-masing, bisa membuat peta (data spasial) dalam format GIS,” jelasnya.
Kegiatan Bimtek SIG Sejarah itu, berlangsung selama dua hari itu (30 April - 1 Mei 2012) dan ditutup secara resmi oleh Kadisbudpar Sulteng Dra Hj Sitti Norma Mardjanu SH MSi MH. Kadisbudpar berharap, agar peserta Bimtek SIG Sejarah itu dapat memahami dan mempraktikan ilmu yang diperoleh selama Bimtek berlangsung, karena selama dua hari ini, selain menerima materi dalam ruangan disertai dengan diskusi dan tanya jawab, para peserta juga telah diberikan materi penggunaan software GIS dan GPS, serta praktik lapangan dan analisa peta. “Para peserta juga telah diberitahu cara menggunakan software Arcview dan menginput data untuk peta tematik sederhana,” pungkasnya.(fer)
Edisi Radar Sulteng
  • Kamis, 23 Oktober 2014
Search
Latest Guestbook
Copyright @ 2011 Media Link. All Rights Reserved.