Newsticker : Home | Guestbook | Arsip
Berita Rubrik Sulteng
Rabu, 9 Oktober 2013

Tidak Ada Kawasan Bekas Tebangan

*Hasil Pantauan Udara Penyebab Banjir Salua

DARI UDARA: Kondisi pegunungan yang berada diatas Desa Salua, tepatnya pada posisi koordinati E.119 derajat 58 menit 23,3 detik dan S.01 derajat 20 menit 49,5 detik, berdasarkan pantaua udara, kemarin (8/10).AWAL
PALU- Memastikan penyebab terjadinya banjir bandang yang menerpa Desa Salua Kecamatan Kulawi, Kabuaten Sigi, Pemerintah Provinsi Sulteng dan Pemkab Sigi memantau dari udara pegunungan di Desa Salua, kemarin (8/10). Ikut dalam pemantauan dengan menggunakan pesawat helikopter Bupati Sigi Aswadin Randalembah, Karo Humas Andi Syahrul Yotolembah SE mewakili Pemprov Sulteng, Wakil Ketua DPRD Sigi Ayub willem Darawia ST MT dan perwakilan  Balai Taman nasional lore lindu Albert Lago.
Kepala Biro HUmas dan Protokol Andi Syahrul menagatakan, penjelajahan melalui udara itu dilakukan guna memastikan kondisi penyebab terjadinya banjir bandang di Desa Salua. Karena menurut survey ditemukan 16 titik yang dianggap rawan penyebab terjadinya banjir.
‘’Kita mau lihat beberapa titik yang dianggap sebagai sumbatan yang menyebabkan genangan dan menjadi penyebab terjadinya banjir. Karena menurut informasi genangan yang terbentuk dari longosran saat terjadinya gempa ditambah tumpukan kayu itulah meluap ketika hujan deras, mendorong terjadinya banjir,’’ kata Karo Humas.
Dari hamparan pegunungan memang terlihat beberapa titik terjadi longsoran tebing, namun kelihatan longsoran lama. Bekas longsoran tersebut diduga akibat gempa beberapa waktu lalu. Ini yang menurut Bupati Aswadin longsoran yang menggiring gelondongan pohon dan menutupi lereng yang menjadi jalannya aliran sungai kecil dibwahnya.
Helikopter yang sengaja menelusuri alur sungai dari wilayah pemukiman Desa Salua, terlihat hanya memiliki lebar sepanjang 1 kilometer. Sementara di wilayah pegunungan terdiri dari beberapa cabang lereng yang diperkirakan sebagai sumber aliran air yang bermuara di Sungai Salua.
Bupati mengatakan, dari beberapa cabang lereng yang menyempit tersebut tempat terjadinya penyumbatan akibat longsoran bersama tumpukan kayu yang roboh akibat gempa.
"Itulah yang menurut survey masyarakat ada sekitar 16 titik genangan. Memang kalau dari udara tidak terlihat karena jauh di bawah berada di lereng," jelasnya.
Menurutnya, penyumbatan yang mengakibatkan genangan aliran sungai itu dibuktikan saat terjadinya gempa masyarakat di bagian hilir sungai tidak mendapatkan aliran sungai. ‘’Kondisi ini yang lama kelamaan menumpuk dan ketika hujan deras tertumpah menjadi air bah. Makanya kita lihat yang ada di Desa Salua, material lumpur dengan gelondongan kayu yang masih dengan akarnya,’’ jelasnya.
Ditambahkannya, saat terjadinya gempa Kulawi lalu, kondisi kayu yang tumbang masih tertahan di lereng karena masih tertahan oleh kerangka cabangnya. Namun karena telah mengalami pelapukan kayu tersebut telah menjadi gelondongan polos tanpa penahan. ’’Jadi kami menyimpulkan banjir Desa Salua bukan karena illegal Logging,’’ tandasnya.
Dari pantauan udara terlihat di kawasan tersebut memang tidak terlihat kawasan bekas tebangan. Yang ada hanya kawasan hutan yang di beberapa sisinya terlihat bekas longsoran.(awl)
Edisi Radar Sulteng
  • Minggu, 26 Oktober 2014
Search
Latest Guestbook
Copyright @ 2011 Media Link. All Rights Reserved.