Newsticker : Home | Guestbook | Arsip
Berita Rubrik Palu Kota Teluk
Rabu, 4 Juli 2012

Petani Garam di Talise yang Nasibnya Tergantung Pada Alam

Harapannya Agar Selalu Terik, Sehingga Proses Mengkristalnya Garam Optimal

Antara manusia yang satu dengan yang lainnya, kadang memiliki harapan dan keinginan yang berbeda. Sebagian warga di Palu, memiliki keinginan agar sinar matahari di Kota Teluk ini tidak terlalu terik. Bahkan sebagian warga, khususnya yang mendiami kawasan yang sulit air, tentu memiliki harapan agar selalu turun hujan. Tetapi keinginan itu, bertolak belakang dengan harapan petani garam. Mereka justru berdoa, agar matahari selalu terik.
 
Vidya, Talise,
Palu-Timur
 
DI saat mentari senja mulai merayap menuju peraduannya, di kawasan penggaraman Talise, tampak seorang lelaki separuh baya, mulai bersiap-siap membungkus segala peralatannya. Lelaki yang kemudian memperkenalkan diri bernama Hasmi itu, sudah akan beranjak pulang, seiring dengan pulangnya mentari ke ufuk barat.
Siang awal pekan itu, matahari di Kota Palu tidak terlalu terik, karena dua hari sebelumnya, dari atmosfer Kota Palu, hujan mengguyur. Kondisi alam awal pekan kemarin, kurang menguntungkan bagi Hasmi. Prinsip Hasmi, dan juga pasti keinginan seluruh petani garam, serta sebagian besar penjual es, agar matahari selalu bersinar dengan terik.
Bukan karena Hasmi suka dengan suasana yang terik, tetapi profesinya sebagai petani garam, makanya Hasmi dalam setiap doanya, selalu menyelipkan harapan, agar matahari di Kota Palu bersinar dengan terik, sehingga proses perubahan air laut menjadi Kristal-kristal garam bisa lebih optimal.
Kota Palu, yang terletak di garis edar matahari atau garis khatulistiwa, memiliki cirri khas dengan kondisi alam yang panas. Makanya, di Kota Palu sampai saat ini masih tetap eksis lokasi penggaraman yang terletak di Kelurahan Talise. Penggaraman tersebut, seakan telah menjadi ikon dan ciri khas Kota Palu, selain keberadaan Teluknya yang memukau.
Namun, Hasmi, mengaku bahwa kondisi alam dalam beberapa hari ini, tidak menentu, sehiggga ikut memengaruhi penghasilan petani garam yang ada di Kelurahan Talise Palu Timur. Tingginya curah hujan beberapa pekan akhir ini, menimbulkan kecemasan petani, karena hasil produksi tidak berjalan normal.
Hasmi, mengatakan keadaan cuaca yang baik menurut versi petani garam, jika hujan tidak turun dan matahari bersinar  dengan terang, sehingga sangat membantu proses terjadinya kristal-kristal garam.
“Kondisi yang seperti itu, yakni matahari bersinar dengan terik, membawa keuntungan bagi kami, petani garam di Talise ini,”ujarnya.
Katanya, saat ini petani garam Talise masih hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. Menurut Hasmi, tingkat pendapatan petani garam, sejak dulu sampai sekarang, belum meningkat secara signifikan. Jika hanya menggantungkan hidup dari hasil penjualan garam, maka petani garam akan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam keadaan alam yang “normal” saja, petani garam mendapatkan laba tidak lebih dari Rp10 ribu apabila ada garam yang laku sekarung. Petani pengolah garam katanya, memang menjual garam Rp50 ribu perkarungnya. Tetapi harga itu, masih harus dibagi lagi dengan para buruh. Apalagi jika alam kurang bersahabat menurut versi petani garam, maka sudah hampir dapat dipastikan, para petani garam akan semakin kelimpungan.
“Dalam minggu ini keuntungan petani garam menurun akibat curah hujan.  Sebab cuaca yang bagus, yaitu matahari cerah tanpa ada tanda-tanda mendung ataupun hujan, produksi garam akan cepat meningkat, prosesnya juga tidak akan terbengkalai,”terangnya. (**)
Edisi Radar Sulteng
  • Rabu, 30 Juli 2014
Search
Latest Guestbook
Copyright @ 2011 Media Link. All Rights Reserved.