Newsticker : Home | Guestbook | Arsip
Berita Rubrik Utama
Senin, 23 Juli 2012

Izin Habis, Ayin Harus Pulang

**Kejaksaan Belum Setujui Perpanjangan Berobat di Singapura

JAKARTA- Status Artalita Suryani alias Ayin, belum bebas 100 persen lantaran masih menjalani pembebasan bersyarat terkait kasus penyuapan terhadap jaksa Urip Tri Gunawan.  Karena itu, dia wajib melapor ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Jakarta Selatan setiap bulan.
Terkait kepergiannya ke Singapura,  mantan penghuni Lapas Wanita Kelas I Tangerang itu memang sudah mengajukan izin berobat ke negeri singa tersebut. Namun, saat ini, masa izin tersebut sudah habis. Bapas pun memintanya pulang.
"Tanggal 22 Juni yang bersangkutan memang meminta izin pergi berobat ke Singapura. Dengan pertimbangan kemanusiaan kami mengizinkannya," kata Kepala Bapas Jaksel, Drais Sidik, kepada koran ini kemarin (22/7). Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Ayin pergi bersama ibunya yang juga sakit ke Singapura.
Tanggal 13 Juli lalu, mestinya Ayin kembali harus datang ke Bapas untuk lapor diri sesuai dengan kewajibannya sebagai terpidana yang menjalani pembebasan bersyarat. Tapi ternyata, perempuan yang pernah divonis lima tahun penjara itu masih berada di Singapura karena belum selesai menjalani pengobatan. Dia pun mengirim surat resmi ke Bapas bahwa dirinya tidak bisa datang memenuhi kewajibannya lantaran masih menjalani perawatan intensif.
"Tanggal 13 Juli Ayin mengirim surat izin lagi dan mengirimkan surat medical record dari RS Mount Elizabeth Singapura. Memang ada rekam jejak bahwa yang bersangkutan sakit," imbuh Drais. Surat Ayin yang diterima Bapas itu langsung diteruskan ke Kejari Jaksel sebagai eksekutor yang berwenang menentukan apakah izin perpanjangan Ayin disetujui atau tidak.
Ternyata hingga kemarin (22/7) Kejari Jaksel belum menentukan apakah perpanjangan itu disetujui atau tidak. Nah dengan begitu, Bapas pun meminta agar Ayin kembali pulang untuk melapor terlebih dulu hingga mendapat keputusan dari Kejari Jaksel apakah surat perpanjangan itu disetujui atau tidak. "Kami mengimbau Ayin pulang dulu," imbuhnya.
Seperti diketahui, saat ini Ayin menjadi orang yang dicari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran keterangannya sangat dibutuhkan untuk mendalami kasus suap Bupati Buol Amran Batalipu terkait pengurusan hak guna usaha kelapa sawit. Ayin pada 16 Juli lalu dipanggil KPK sebagai saksi namun dia tidak memenuhi panggilan.
Lantaran keterangan Ayin benar-benar diperlukan, maka komisi yang dipimpin Abraham Samad itu pun mempertimbangkan akan mengirim tim penyidik untuk memeriksa Ayin di Singapura. "Karena keterangan Ayin sangat penting, maka tidak menutup kemungkinan kami akan mengirim penyidik untuk memeriksa yang bersangkutan di Singapura," kata juru bicara KPK Johan Budi.
Informasinya, KPK ingin mengorek keterangan dari Ayin lantaran dia juga memiliki lahan kelapa sawit di Buol. Bahkan, lahan yang dimilikinya berdekatan dengan lahan milik PT Hardaya Inti Plantation (HIP) dan PT Cipta Cakra Murdaya (CCM), yang kasusnya juga sedang ditangani KPK.
Teuku Nasrullah, kuasa hukum Ayin mengakui bahwa kliennya hingga kini masih menjalani rawat jalan di RS Mount Elizabet. Menurut Nasrullah, kliennya mengalami ganguan saraf di lehernya. "Jadi setiap hari dia harus datang ke RS untuk periksa," kata Nasrullah kemarin.
Terkait izin meninggalkan tanah air padahal Ayin masih berstatus bebas bersyarat, Nasrullah menerangkan bahwa kliennya sudah mengajukan permohonan dan memenuhi semua persyaratan yang diajukan pihak Bapas Jaksel. Sebelum pergi ke Singapura pada pertengahan Juni lalu, sejak dua bulan sebelumnya Ayin sudah mengumpulkan beberapa persyaratan.
Karena sudah lengkap, pihak Bapas member izin. "Dia memang pergi bersama ibunya yang juga sakit," kata Nasrullah. Nah pada 13 Juli lalu, lanjut Narullah, kliennya mengirim surat izin perpanjangan tinggal di Singapura ke Bapas via surat elektornik (email).
Dalam surat tersebut Ayin menyampaikan bahwa dirinya masih sakit dan pihak dokter belum memberi izin untuk pulang ke Indonesia. Pada 17 Juli, Ayin mengirim surat resmi yang menyatakan dirinya masih sakit.
Terkait dengan niat KPK yang ingin memeriksa Ayin di Singapura jika memang dia masih sakit, Nasrullah menerangkan, kliennya sangat ingin memenuhi panggilan KPK sebagai saksi. "Ibu pesan, kalau bisa ditunggu, maka dirinya minta agar bisa diperiksa di Jakarta saja kalau kesehatannya sudah membaik," kata pria yang juga menjadi pengacara Angelina Sondakh itu.
Tapi, jika KPK memang sangat ingin memeriksa Ayin di Singapura, maka pihaknya berjanji akan kooperatif. Namun, Nasrullah kembali menegaskan bahwa Ayin sama sekali tidak memiliki lahan kelapa sawit di Buol. Yang memiliki lahan adalah anaknya yang bernama Rommy.
"Ayin juga tidak punya saham di dalam perusahaan itu. Pokoknya kasus Buol tidak berkaitan sama dia," imbuh mantan Dosen Fakultas Hukum UI itu. (jpnn)
Edisi Radar Sulteng
  • Selasa, 21 Oktober 2014
Search
Latest Guestbook
Copyright @ 2011 Media Link. All Rights Reserved.